Selasa, 02 April 2013

KESEHATAN MENTAL MENURUT PARADIGMA PSIKOLOGI


BAB I
PENDAHULUAN

Semua orang yang ada di dunia ini pasti ingin untuk hidup sehat, karena kesehatan adalah harta yang tak ternilai harganya, banyak cara yang di tempuh oleh semua orang untuk memperoleh kesehatan. Seseorang dikatakan sehat tidak hanya dilihat dari segi fisiknya saja, tetapi juga harus ditinjau dari segi kesehatan mentalnya. Mental merupakan salah satu unsur pembentuk jiwa. Kesehatan mental sangat penting untuk selalu kita jaga, karena fisik yang kuat tak akan berarti tanpa mental jiwa yang sehat. Tidak seorangpun yang tidak ingin menikmati ketenangan hidup, dan semua orang akan berusaha mencarinya, meskipun tidak semuanya dapat mencapai yang diinginkannya itu. Bermacam sebab dan rintangan yang mungkin terjadi sehingga banyak orang yang mengalami kegelisahan, kecemasan dan ketidak puasan.
Hidup yang bermakna menjadi sebuah jawaban, maka dari situlah kepribadian Islam menjadi harapan di tengah-tengah kemajemukan  masyarakat dan peradaban global. Sebagai alternatif, kesehatan mental merupakan solusi melalui paradigma pendidikan untuk mengembangkan sisi-sisi potensi kecerdasan qalbiyah baik secara spiritual, kognitif-intelektual, afeksi-emosional dan psikomotor-amaliah. Upaya pemetaaan konsep pendekatan dalam tulisan ini tidak lepas dari paradigma psikologi Islam sebagai "pisau analisis" dalam memahami fenomena psikologis manusia dan kemanusiaanya secara utuh dalam seluruh stuktur kepribadiannya. Dengan demikian, dalam tulisan ini persoalan yang akan dikaji tidak lebih merupakan bahan telaah Pengantar Psikologi Islam: kesehatan mental dalam psikologi Islam, kesehatan mental: solusi pengembangan qalbiah, dan integrasi dimensional kecerdasan qalbiah dalam ranah pendidikan.
Dalam literatur Psikologi, ditemukan beberapa pengertian kesehatan mental. Musthafa Fahmi, sebagaimana dikutip oleh Muhammad Mahmud Mahmud menemukan dua pola dalam mendefinisikan kesehatan mental: Pertama, pola negatif (salabiy), bahwa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari segala neurosis (al-amradh al-ashabiyah) dan psikosis (al-amradh al-dzihaniyah). Kedua, pola positif (ijabiy), bahwa kesehatan mental adalah kemampuan individu dalam penyesuaian diri sendiri dan terhadap lingkungan sosialnya.
Zakiah Daradjat secara lengkap mendefinisikan kesehatan mental dengan ”terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara individu dengan dirinya sendiri dan lingkungannya berdasarkan keimanan dan ketakwaan. Dalam pengertian yang luas kesehatan mental dapat diartikan sebagai terwujudnya keserasian yang sungguh-sungguh antara fungsi-fungsi kejiwaan dan terciptanya penyesuaian diri antara manusia dengan dirinya sendiri dan lingkungannya, berlandaskan keimanan serta bertujuan untuk mencapai hidup yang bermakna dan bahagia di dunia dan di akhirat.
Dengan demikian fungsi-fungsi jiwa seperti pikiran, perasaan, sikap jiwa, pandangan dan keyakinan hidup harus dapat saling membantu dan bekerja sama satu dengan lainnya sehingga dapat tercapai keharmonisan yang dapat menjauhkan orang dari perasaan ragu dan bimbang serta terhindar dari kegelisahan dan pertentangan batin. Keharmonisan antara fungsi jiwa dan tindakan tegas itu dapat dicapai antara lain dengan keyakinan akan ajaran agama, keteguhan dalam mengindahkan norma-norma sosial, hukum, moral dan sebagainya.
 
BAB II
LANDASAN TEORI

A.    PENGERTIAN KESEHATAN MENTAL
Istilah kesehatan mental dalam Al quran dan Hadits digunakan dengan berbagai kata antara lain najat (keselamatan), fawz (keberuntungan), falah (kemakmuran), dan sa'adah (kebahagiaan). Bentuk kesehatan mental meliputi:
yang berlaku di dunia yaitu keselamatan dari hal-hal yang mengancam kehidupan dunia.
yang berlaku dalam kehidupan akhirat yaitu selamat dari celaka dan siksaan di akhirat termasuk menerima ganjaran dan kebahagiaan dalam berbagai bentuk.
Dalam al-Qur'an juga terdapat ayat-ayat yang berkaitan dengan uraian definisi kesehatan mental, yang meliputi hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia, dengan lingkungan dan dengan Allah, yang semuanya ditujukan untuk mendapatkan hidup yang lebih berarti dan akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Sedangkan, Orang yang mempunyai mental yang sehat menurut Al Ghazali digambarkan dalam konsep insan kamil (manusia paripurna/sempurna). Insan kamil dalam konsep psikologi modern yaitu bisa berlaku di dunia ini artinya untuk sampai pada kedudukan insan kamil manusia melalui perubahan kualitatif sehingga ia mendekati (qurb) Allah dan menyerupai malaikat. Dari konsep insan kamil dapat kita tarik kesimpulan bahwa orang yang sehat mental (insan kamil) diantaranya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
1.    motif utama setiap tindakannya adalah beribadah kepada Allah.
2.    senantiasa berdzikir (mengingat Allah) dalam menghadapi segala permasalahan.
3.    beramal dengan ilmu.
Menurut Hasan Langgulung, kesehatan mental dapat disimpulkan sebagai “akhlak yang mulia”. Oleh sebab itu, kesehatan mental didefinisikan sebagai “keadaan jiwa yang menyebabkan merasa rela (ikhlas) dan tentram ketika ia melakukan akhlak yang mulia.
Didalam buku Yahya Jaya menjelaskan bahwa kesehatan mental menurut islam yaitu, identik dengan ibadah atau pengembangan potensi diri yang dimiliki manusia dalam rangka pengabdian kepada Allah dan agama-Nya untuk mendapatkan Al-nafs Al-muthmainnah (jiwa yang tenang dan bahagia) dengan kesempurnaan iman dalam hidupnya.
Sedangkan dalam bukunya Abdul Mujib dan Yusuf Mudzkir kesehatan menurut islam yang dkutip dari Musthafa fahmi, menemukan dua pola dalam mendefenisikan kesehatan mental:
Pola negatif (salaby), bahwa kesehatan mental adalah terhindarnya seseorang dari  neurosis (al-amhradh al-'ashabiyah) dan psikosis (al-amhradh al-dzihaniyah).
Pola positif (ijabiy), bahwa kesehatan mental adalah kemampuan individu dalam penyesuaian terhadap diri sendiri dan terhadap lingkungan sosial.


B.     DEFINISI KESEHATAN MENTAL MENURUT TOKOH ISLAM
Kesehatan mental tidak bisa dilepaskan dari bingkai paradigma sains kontemporer, dimana kesehatan mental diukur dengan sejauh mana persepsi seseorang terhadap realitas empirik semata. Kesehatan mental dianggap identik dengan seberapa mampu seseorang dalam mempersepsi terhadap lingkungan realitas empirik dengan baik. Realitas empirik yang dimaksud disini mencakup lingkungan yang terbaas pada diri dan masyarakat di sekitarnya. Realitas meta empirik yang meliputi makhluk spiritual, alam ruh, Allah, dan sebagainya. Arah penyempurnaan kajian mental yaitu pada ketercakupan seluruh potensi manusia yang multi dimensi.
Disini, Zakiah Darajat merumuskan pengertian kesehatan mental yang mencakup seluruh potensi manusia yaitu sebagai bentuk personifikasi iman dan takwa seseorang. Hal ini dipahami bahwa semua kriteria kesehatan mental dirumuskan mengacu pada nilai-nilai iman dan takwa.
Unsur iman dan takwa berdasar pada kenyataan bahwa tidak sedikit ditemukan orang yang tampaknya hidup bahagia dan sejahtera, kepribadiannya menarik, sosialitasnya sangat baik, tetapi sebenarnya memiliki jiwa gersang dan stress karena tidak beragama atau kurang taat dalam beragama, dan itu dinyatakan sebagai kesehatan mental semu. Secara nyata seseorang tersebut dapat dinyatakan sebagai orang yang sehat mental, karena perilakunya dinilai sangat baik oelh lingkungan, namun jika dilihat dari pengertian Zakiah Darajat, orang tersebut tidak sehat mental,karena orang tersebut gagal dalam hubungan dengan Tuhannya.
Dari penjelasan diatas, maka dapat dikatakan bahwa hakekat kesehatan mental adalah terwujudnya keserasian, keharmonisan, dan integralitas kepribadian yang mencakup seluruh potensi manusia secara optimal dan wajar. Zakiah Darajat juga mengemukakan empat indikator untuk mengetahui tingkat kesehatan mental, diantaranya:
1. Ketika seseorang mampu menghindarkan diri dari gangguan mental dan penyakit.
2. Ketika seseorang mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat, alam, dan Tuhannya.
3. Ketika seseorang mampu mengendalikan diri terhadap semua problema dan keadaan hidup sehari-hari.
4. Ketika dalam diri seeorang terwujud keserasian, dn keharmonisan antara fungsi-fungsi kejiwaan.
Ilmu kesehatan mental tidak jauh berbeda dengan psikologi agama. Menurut Hasan Langgulung, sekalipun kesehatan mental itu merupakan istilah dan ilmu baru, tetapi hakekatnya sama dengan konsep kebahagiaan, keselamatan, kejayaan, dan kemakmuran. Penganalogan kesehatan mental dengan konsep kebahagiaan itu menunjukkan bahwa kesehatan mental merupakan suatu kondisi jiwa yang sehat secara wajar dan optimal. Jalal Syaraf mengistilahkan dengan “al-Mustawa al-Shahiy al-Aqliy 'Ammatan”, yaitu suatu kondisi jiwa yang sehat bisa dibahas ketika berbicara tentang terhndarnya seseorang dari penyakit jiwa, pengendalian diri, terwujudnya integritas antara berbagai fungsi-fungsi kejiwaan. Sementara Ibnu Sina mengemukakan bahwa kebahagiaan tidak bisa lepas dari kajian akhlak, karena kebahagian tanpa kahlak mulia itu tidaklah mungkin. Kebersiah dan kesucian kalbu menjadi kunci utama perolehan kebahagiaan. Kalbu atau jiwa yang suci membuat seseorang jauh dari gangguan dan penyakit kejiwaan. Al Ghazali juga menyebutkan bahwa teori kebahagiaan sebagai cerminan kesehatan mental dalam balutan akhlak sufistik.

C.     IMAN DAN KESEHATAN MENTAL
Dalam hal ini, iman sangat diperlukan dalam kehidupan manusia, jika ingin hidup tenang dan bahagia. Kepribadian yang di dalamnya terkandung unsur-unsur agama dan keimanan yang cukup teguh, maka setiap ada masalah, orang tersebut akan menghadapinya dengan tenang. Dimana unsur terpenting yang yang membantu pertumbuhan dan perkembangan kejiwaan manusia adalah iman yang direalisasikan dalam bentuk ajaran agama. Maka dala Islam, prinsip pokok yang menjadi sumbu kehidupan manusia adalah iman, karena iman itu yang menjadi pengendali sikap, ucapan, tindakan, dan perbuatan. Berikut ini adalah pengaruh iman terhadap kesehatan mental:
Iman kepada Allah
Keimanan adalah suatu proses kejiwaan yang tercakup di dalamnya semua fungsi jiwa, perasaan dan pikiran sama-sama meyakinkannya. Apabila iman tidak sempurna, maka manfaatnya bagi kesehatan mentalpun kurang sempurna. Misalnya, belakangan ini di negara Indonesia memang benar mayoritas Islam dan bertuhan. Namun banyak sekali orang yang tidak mampu menggunakan kepercayaannya itu dalam hidupnya. Mereka gelisah, hidup tidak tentram, dimana-mana terjadi pertengkaran dan permusuhan, baik dalam rumah tangga maupun lingkungan luar.
Untuk dapat mencapai keimanan yang sungguh dan menjamin kebahagiaan hidup, maka bagi Muslim, percaya adanya Allah itu wajib. Termasuk juga percaya dengan sifat-sifat Allah. Seprti orang yang percaya tentang adanya Allah (wujud), maka orang tersebut tidak akan pernah kesepian dimanapun dia berada.
Iman kepada malaikat
Kepercayaan akan adanya malaikat adalah bahwa kepercayaan itu menentramkan batin dan mempunyai pengaruh terhadap kesehatan mental.
Iman kepada kitab Allah
Berdasarkan penelitian di klinik jiwa, menunjukkan bahwa, betapapun buta hurufnya seseorang tentang al-Quran, namun setelah mereka mengalami gangguan kejiwaan atau diserang oleh rasa cemas dan konflik jiwa yang tidak teratasi, banyak sekali yang menggunakan al-quran sebagai penenang hatinya. Dimana dengan al-Quran, bisa menetramkan batin dan melegakan jiwa, yang selanjutnya menjamin kesehatan mental.
Iman kepada rasul Allah
Apabila kita tidak percaya terhadap rasul-rasul Allah, kita tidak akan dapat menjalankan agama. Karena agama dibawa oleh nabi dan rasul Allah. Selanjutnya, kita tidak akan sanggup pula mendekatkan diri kepada Allah, sehingga berakibat datangnya kecemasan dan kegelisahan.
Sebenarnya, jika kita teliti keistimewaan semua rasul Allah, akan ditemukan bahwa setiap ajaran mereka yang terpenting dan menonjol, juga terdapat ajaran Islam. Termasuk juga jika kita mampu mengakui keberadaan nabi-nabi terdahulu.
Kesimpulannya, kepercayaan kepada nabi dan Rasul Allah itu menentramkan batin dan memungkinkan persatuan dengan semua penganut agama yang mereka bawa.
Iman kepada hari kiamat
Kepercayaan tehadap hari kiamat, mencakup seluruh hal yang berkaitan dengan akhirat. Yang selanjutnya akan menjamin kesehatan mental yang dibutuhkan oleh jiwa.
Iman kepada qada' dan qadar
Kepercayaan terhadap takdir Allah, dapat mengurangi rasa tertekan jiwa karena kegagalan dalam usaha atau dalam hidup pada umumnya. Dengan kepercayaan yang keenam ini, seseorang dapat terhindar dari rasa kecewa dan frustasi yang mendalam. Hal ini menjamin kesehatan mental orang yang beriman.

D.    PATOLOGI/ PENYAKIT MENTAL DALAM ISLAM
Para pemikir islam mengemukakan beberapa penyakit mental yaitu:
Ø  riya' yaitu bertingkah laku karena motif ingin dipuji atau diperhatikan orang lain.(Qs.An nisa:142, Qs.At taubah:67)
Ø  hasad dan dengki atau iri hati yaitu tidak suka pada kebahagiaan orang lain. (Qs.An nisa:54, Qs.Al Falaz:1-5)
Ø  rakus yaitu hasrat yang berlebih-lebihan dalam makan.
Ø  waswas. Para pemikir islam berpendapat bahwa waswas merupakan bisikan hati, akan cita-cita dan angan-angannya dalam nafsu dan kelezatan.
Ø  bicara berlebih-lebihan. Jika seseorang menyukai bicara yang berlebihan maka dia akan lebih banyak berbohong.
Ø  melaknati orang yaitu menyumpahi atau mendoakan hal-hal yang buruk untuk orang lain.
Ø  ingkar janji. Jika janji itu diingkari karena nafsu bukan karena hal-hal yang mendesak.
Ø  berbohong.
Ø  mengadukan orang lain (naminah) yaitu menyampaikan hal-hal yang tidak disukai oleh orang yang bersangkutan.
Ø  membicarakan kejelekan orang lain di belakang orang tersebut (ghibah).
Ø  sangat marah (syiddat alghadab).
Ø  cinta dunia (hubb ad dunya).
Ø  cinta harta (hub al-mal).
Ø  kebakhilan yaitu pelit atau menyembunyikan dan menumpuk harta.
Ø  cinta pada kedudukan atau pangkat (hubb al-jah).
Ø  kesombongan (kibr) atau bangga (ujub).


E.     INTERVENSI
Ar-Razi dalam bukunya 'Al-Thib al-Rûhâniy' menjelaskan cara perawatan dan penyembuhan penyakit-penyakit kejiwaan dengan melakukan pola hidup sufistik. Melalui konsep zuhud, pengendalian diri, kesederhanaan hidup, jauh dari akhlak buruk, menjadikan akal sebagai esensi diri merupakan kunci-kunci perolehan kebahagiaan hidup.

F.      ANALISIS
Dari pengertian dan penjelasan kesehatan mental dalam tinjauan islam, dapat dipahami bahwa islam memberikan konsep yang komprehensiv dan menyeluruh dalam memahami kesehatan mental. Berbeda dengan pandangan freud mengenai kesehatan mental yang hanya melihat dari sisi individu. Yaitu ketika ego dapat menjembatani antara dorongan id dan tuntutan superego tanpa adanya kecemasan dan defence mechanism yang dilakukan oleh ego, dan juga pandangan-pandangan madzhab psikologi lainnya. Dalam makalah ini konsep kesehatan mental menurut tinjauan islam akan diperbandingkan dengan konsep-konsep psikologi kontemporer, yaitu psikoanalisa, behavioristik, dan humanistik.
Psikoanalisa
Dalam kaitannya dengan psikoanalisa, sudah dijelaskan bahwa konsep kesehatan mental yang diyakini oleh freud adalah ketika ego dapat menjembatani antara dorongan id dan tuntutan superego secara realistis dan tanpa melibatkan kecemasan pada individu atau dikenal dengan istilah ego strength. Konsep psikoanalisis mendasarkan perilaku manusia yang timbul atas dasar dorongan id yang dalam Islam disebut nafsu. Ada istilah superego, namun lebih ditekankan pada nilai-nilai yang dianut dari lingkungan dan bukan potensi yang asalnya dari Tuhan. Psikoanalisis terlalu menekankan alam bawah sadar sehingga terkesan mengesampingkan akal. Islam sebagai sebuah cara pandang di dalam kesehatan mental mengakomodir kemampuan akal dan bahkan qalb dalam mengatasi dorongan-dorongan nafs yang negative. Qalb ini merupakan potensi yang datangnya dari Ilahi, dan bukan hasil bentukan lingkungan seperti superego. Psikoanalisis juga terlalu memandang negative manusia. Berbeda dengan Islam yang menggambarkan manusia sebagai khalifah fi lard sekaligus insan kamil yang penuh dengan potensi positif. Meski Islam juga tidak mengesampingkan bahwa manusia memiliki potensi negative.
Behavioristik
Orang yang sehat mental menurut konsep behavioristic adalah orang yang perilakunya merupakan hasil belajar yang benar. Pada hakikatnya, manusia adalah kertas kosong yang perilakunya akan sangat ditentukan oleh pewarnaan lingkungan. Sehingga kesehatan mental itu datangnya dari lingkungan. Behavioristik terlalu memandang mekanis manusia dan terkesan mengabaikan potensi-potensi manusia seperti akal, dan hati nurani.
Islam sebagai sebuah cara pandang dalam kesehatan mental, menerapkan beberapa hokum behavioristic dalam metode penyampaian ajarannya. Ada istilah pahala dan dosa yang berlaku sebagai reward dan punishment. Namun islam tidak lantas memandang manusia berbuat baik atau jahat hanya karena adanya kedua hal tersebut. Islam tidak mengabaikan potensi yang ada pada diri manusia, perilaku manusia tidak hanya ditentukan lingkungan, namun individu juga memiliki kehendak untuk memilih perilaku apa yang akan ditampakkannya. Apaka individu akan menuruti nafs jelek? Atau akan menuruti qalb-nya?
Humanistik
Dalam konsep humanistik memandang seseorang yang memiliki mental yang sehat adalah orang yang dapat berfungsi sepenuhnya (fully functioning person), yaitu orang-orang yang dapat mencapai penyesuaian psikologis secara baik. Orang-orang tersebut memiliki tanda-tanda diantaranya adalah terbuka terhadap pengalaman, percaya kepada organismenya sendiri, dapat mengekspresikan perasan-perasaannya secara bebas, bertindak secara mandiri, dan kreatif.
Sekarang jelaslah bahwa islam memiliki pandangan yang komprehensiv dalam memahami kesehatan mental, hal ini diperkuat karena manusia tidak hanya makhluk hedonis atau makhluk ynag hanya memiliki ikatan dengan dirinya dan lingkungannya seperti yang dijelaskan oleh madzhab-madzhab di atas melainkan manusia adalah makhluk yang memiliki fitrah abdiah dan khalifah.
BAB III
KESIMPULAN

Kesehatan mental didefinisikan sebagai “keadaan jiwa yang menyebabkan merasa rela (ikhlas) dan tentram ketika ia melakukan akhlak yang mulia. Bentuk kesehatan mental meliputi:
yang berlaku di dunia yaitu keselamatan dari hal-hal yang mengancam kehidupan dunia.
yang berlaku dalam kehidupan akhirat yaitu selamat dari celaka dan siksaan di akhirat termasuk menerima ganjaran dan kebahagiaan dalam berbagai bentuk.
Ciri-ciri orang yang sehat mentalnya menurut Al Ghazali adalah sebagai berikut:
1.    motif utama setiap tindakannya adalah beribadah kepada Allah.
2.    senantiasa berdzikir (mengingat Allah) dalam menghadapi segala permasalahan.
3.    beramal dengan ilmu.
Indikator untuk mengetahui tingkat kesehatan mental menurut Zakiah Darajat, diantaranya:
1. Ketika seseorang mampu menghindarkan diri dari gangguan mental dan penyakit.
2. Ketika seseorang mampu menyesuaikan diri dengan masyarakat, alam, dan Tuhannya.
3. Ketika seseorang mampu mengendalikan diri terhadap semua problema dan keadaan hidup sehari-hari.
4. Ketika dalam diri seeorang terwujud keserasian, dn keharmonisan antara fungsi-fungsi kejiwaan.
Kesehatan mental manusia memiliki korelasi positif dengan keimanan. Islam memiliki pandangan yang komprehensiv dalam memahami kesehatan mental, hal ini diperkuat karena manusia tidak hanya makhluk hedonis atau makhluk yang hanya memiliki ikatan dengan dirinya dan lingkungannya seperti yang dijelaskan oleh madzhab-madzhab psikologi barat melainkan manusia adalah makhluk yang memiliki fitrah abdiah dan khalifah.

1 komentar: